Kamis, 29 September 2011

Munculnya Hitam pudarnya Putih Kebudayaan.


Indonesia, Indonesia adalah Negara dimana beragam jenis budaya tercantum di dalamnya. Setiap provinsi di wilayah Indonesia memiliki budayanya masing masing. Misalnya : batik dari jawa tengah dan sekitarnya.
Hal yang saya bahas disini bukan budaya yang seperti itu, tetapi budaya yang merupakan suatu perbuatan. Saya akan membahas budaya suku papua (perdalaman) yang masih menganut budaya tukar isteri.
Tukar isteri, mendengarnya saja saya cukup merinding karena tidak dapat saya bayangkan bagaimana keadaan warga sekitar sampai melakukan hal tersebut. Banyak argument dari salah seorang suku yang melakukan itu, bahwa budaya yang telah ia lakukan selama ini merupakan wujud cinta mereka kepada dewa atau roh agungnya. Bagi mereka hal ini merupakan budaya yang seharusnya dilestarikan sampai nanti keturunan berikutnya. Padahal efek dari mereka melakukan hal tersebut sangat fatal bisa dikatakan terjangkit HIV/AIDS.
Budaya seperti ini hampir saja mempengaruhi warga di sekitar suku tersebut, mungkin karena adanya agama dan moral jadi cara berpikir mereka pun berbeda dengan orang orang yang ada di suku itu. Saya bersyukur budaya ini hanya mereka lakukan saat waktu pemujaan pada roh roh saja yang tentunya saya tak mengerti kapan acara tersebut berlangsung. Di era modern ini, saya prihatin dengan masih adanya kepercayaan animisme dan dinamisme. Apalagi kepercayaan ini merupakan salah satu budaya mereka yang berasal dari leluhur mereka. Tindak pemerintah untuk menanggulangi ini pun tidak ada karena pemerintah setempat merasa takut dengan masih adanya kepercayaan tersebut. apabila pemerinta mengganggu kepercayaan itu nantinya mereka akan menerima akibat dari merusak kepercayaan itu.
Selanjutnya dari budaya yang bisa kita tiru dan pengaruh baik terhadap warga sekitarnya adalah suku baduy. Kalian pasti pernah mendengar suku baduy, kini suku baduy terbagi atas 2 jenis yaitu suku baduy dalam dan suku baduy luar. Disini saya akan membahas tentang baduy dalam. Baduy dalam masih sangat kental adat dan budaya yang beredar di wilayahnya. Banyak sekali budaya dan perilaku yang seharusnya kita membudayakan ini di daerah kita sendiri. Sebagian kecilnya adalah tidak bolehnya seseorang keluar malam hari atau lebih tepatnya setelah magrib tiba, karena menurut adat sekitar aka nada roh halus yang akan menghantui dirinya ketika mereka keluar saat magrib tiba. Ternyata setelah saya mendengarkan ceramah saat saya solat jumat, kebiasaan yang seperti itu memang seharusnya diperlakukan.
“suruhlah anakmu tidak keluar di saat maghrib tiba, karena di saat itulah syetan syetan berkeliaran dan mempengaruhi pribadi kita” ujar penceramah solat jumat saat itu.
Menurut saya, kebiasaan itu seharusnya menjadi budaya jaman sekarang untuk diharuskan. Kebiasaan yang baik ini pun mungkin akan berpengaruh baik buat pribadi kita sendiri. Budaya modern sudah melekat pada tubuh kita jadi untuk menjadikan hal diatas menjadi budaya kebiasaan saat ini pun telah hilang. Yang dilakukan oleh suku baduy ini sangat baik karena selain budayanya yang tak dapat di pengaruhi dari jaman terdahulu budaya yang mereka jalani ini pun telah mendarah daging jadi budaya modern yang berkembang di jaman sekarang tidak dapat mempengaruhi budaya di daerah suku baduy dalam tersebut.
Berlanjut budaya terdahulu yang telah menghilang di kalangan muda adalah budaya mencium tangan kepada kedua orangtua ketika ingin berangkat sekolah, kuliah ataupun kerja. Masihkah kita melakukan hal itu? Hampir semua menjawab tidak pastinya. Sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat budaya itu hampir punah di kalangan sekarang adalah dengan adanya budaya gengsi. Saya baru menemukan budaya itu ketika saya beranjak remaja seperti sekarang. Remaja kini terlalu terpengaruh dengan teman teman sepergaulannya. Ketika kita sedang mencium tangan kedua orangtua pastinya setelah kedua orangtua kita beranjak pergi langsung saja celotehan celotehan tidak enak datang dari mulut teman teman. Entah mereka mengucap “anak mami” atau “anak manja” atau yang lebih parah “masih jaman cium tangan”. Sebenarnya budaya cium tangan itu penting, karena secara tidak langsung kita menghormati kedua orangtua kita dengan cara kecil seperti itu. Hal terpenting lagi dari hikmah mencium tangan kedua orangtua adalah restu atau doa kedua orang tua ketika kita mencium tangan beliau langsung sampai ke kita tanpa melewati perantara. Budaya budaya kecil ini yang seharusnya jangan hilang di tengah masyarakat dan malah kebudayaan gengsi yang mempengaruhi masyarakat di era modern ini.
Opini opini ini saya sampaikan untuk memenuhi keperluan tugas softskill saya, bila mana anda tersentuh hatinya untuk melakukan budaya hal baik yang dapat ditiru ya silahkan saja. Jangan meniru budaya suku di papua yang dapat berdampak tidak baik buat diri kita maupun orang lain di sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar